
Menurut riset Nielsen, rata-rata orang terpapar lebih dari 6.000 iklan per hari. Pertanyaannya apakah semua pesan itu berhasil sampai dan memengaruhi audiens? Jawabannya tidak. Banyak konten digital yang sekadar informatif, tapi gagal membangun koneksi.
Di sinilah komunikasi persuasif berperan. Konten yang persuasif bukan hanya soal kata-kata, tapi tentang bagaimana membangun rasa terhubung. Berikut tips bagaimana membangun koneksi dengan komunikasi persuasif di era digital:
1. Bangun Hubungan, Bukan Hanya Tayangan
Audiens tidak peduli seberapa hebat brand Anda, kalau mereka tidak merasa diajak bicara secara personal. Mulailah dengan bahasa yang relatable, yaitu gunakan cerita sehari-hari, pengalaman nyata, atau pertanyaan sederhana. Dengan begitu, audiens merasa pesan itu “ditujukan untuk saya”.
2. Gunakan Bahasa Manfaat, Bukan Fitur
Kesalahan umum dalam digital marketing adalah fokus pada fitur produk. Padahal, audiens lebih tertarik pada manfaat yang langsung mereka rasakan.
Alih-alih menulis “Produk ini punya 10 fitur canggih”, ubah jadi “Produk ini bisa menghemat waktu kerja Anda hingga 50%”. Ini bisa disebut shifting the focus from features to outcomes.
3. Tambahkan Persuasive CTA
CTA (Call to Action) yang persuasif bukan hanya ajakan membeli, tapi dorongan yang membuat audiens merasa rugi kalau tidak bertindak. Contoh: “Klik sekarang untuk dapat bonus e-book gratis” lebih kuat daripada “Klik link di bawah”.
Digital marketing tanpa persuasi hanyalah hambar. Dengan Persuatrick™, konten Anda tidak sekadar tampil, tapi juga hidup dan menggerakkan audiens untuk merespons.
Ingin tahu cara membuat konten digital yang lebih persuasif? Ikuti training Katadaya dan ubah strategi komunikasimu jadi lebih berdampak.