Leading Across Generation: Saatnya Pemimpin Belajar Mendengar, Bukan Hanya Mengarahkan

Di era kerja multigenerasi seperti sekarang, tantangan terbesar seorang pemimpin bukan lagi soal bagaimana memberi perintah, tapi bagaimana mendengarkan dengan empati. Karena di antara kesibukan rapat, target, dan perubahan, sering kali yang hilang bukan kemampuan teknis, melainkan keterhubungan antar manusia.

Kesadaran inilah yang menjadi titik awal dari Training Leading Across Generation, program pelatihan yang diselenggarakan Katadaya bersama Serikat Pekerja Pertamina (SPP) – UPms 1 pada 10 November 2025.

Pelatihan ini dirancang untuk membantu para pemimpin dan pengurus serikat membangun pola kepemimpinan yang lebih adaptif, kolaboratif, dan manusiawi di tengah perubahan zaman.

Belajar Memimpin dengan Cara Baru

Bersama Coach Qodrisyah Siregar, peserta training diajak merefleksikan ulang arti menjadi pemimpin di era yang penuh perbedaan generasi. Melalui pendekatan experiential learning, sesi ini tidak hanya berisi teori, tetapi juga latihan mendengarkan aktif, simulasi komunikasi lintas generasi, dan refleksi nilai kepemimpinan.

Empat tema utama menjadi benang merah pembelajaran:

  1. Adaptive Leadership – Leading in Change
    Belajar mengenali perubahan, dan menyesuaikan cara memimpin agar tetap relevan.
  2. The Power of Active Listening
    Mengasah kemampuan mendengarkan dengan empati, bukan hanya untuk merespons, tapi untuk memahami.
  3. Building & Developing Your Team
    Menemukan cara membangun tim lintas generasi yang saling menghargai dan bertumbuh bersama.
  4. Wisdom & Integrity in Leadership
    Menyadari bahwa keputusan terbaik lahir dari nilai dan kesadaran diri seorang pemimpin.

Setiap sesi dirancang agar peserta benar-benar mengalami perubahan cara pandang. Ada yang menyadari bahwa “mendengarkan” ternyata jauh lebih sulit dari memberi arahan. Ada juga yang menyadari bahwa kepemimpinan bukan lagi tentang siapa yang paling tahu, melainkan siapa yang paling mampu memahami.

Suasana pelatihan terasa hangat dan penuh refleksi. Peserta saling bertukar cerita, tertawa saat simulasi, lalu hening ketika diajak menulis refleksi pribadi: “Pemimpin seperti apa yang ingin saya wariskan?”

Dari momen-momen sederhana itu, muncul kesadaran baru bahwa kepemimpinan tidak harus keras untuk dihormati, dan tidak harus tinggi untuk didengarkan. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan nilai peserta antara pre-test dan post-test. Namun, yang lebih penting dari angka adalah perubahan cara pandang:

“Saya belajar untuk lebih banyak mendengar dan lebih sedikit menghakimi.”
“Saya sadar bahwa setiap generasi punya cara berkontribusi yang berbeda, dan itu kekuatan, bukan hambatan.”

Itulah dampak yang dihadirkan Katadaya, membantu pemimpin menjadi versi terbaik dari dirinya, bukan dengan meniru gaya orang lain, tetapi dengan memahami dirinya sendiri dan orang-orang yang ia pimpin. Melalui Leading Across Generation Training, Katadaya menegaskan bahwa kepemimpinan sejati berawal dari kesediaan untuk memahami. Bahwa pemimpin yang bisa menggerakkan orang lain bukan hanya yang pandai berbicara, tetapi yang mampu hadir penuh dan mendengarkan dengan hati.

Bagi organisasi, lembaga, ataupun perusahaan yang ingin membangun budaya kolaboratif di tengah perbedaan generasi, pelatihan ini bisa menjadi langkah awal yang bermakna. Karena pada akhirnya, memimpin lintas generasi bukan soal siapa yang paling senior atau paling muda, tapi siapa yang paling mau belajar.

Katadaya siap membantu Anda mengubah cara berkomunikasi agar lebih berpengaruh, berempati, dan berdampak.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top